Selasa, 24 April 2012

Hox, Memperalat Organisme Melakukan Evolusi


Darwin masih muda kala berlayar mengarungi samudera dalam mengisi kehampaannya, lalu cicitan burung Finch di kepulauan Galapagos mampu membuatnya berontak mengamati apa yang sesungguhya alam sediakan untuk sebuah kehidupan. Evolusi organisme dipublikasikan secara hati - hati dalam bukunya On The Origin of Species pada 24 November 1859, dalam buku ini Darwin memuat teori evolusinya sebagai penciptaan spesies baru melalui dua mekanisme utama yaitu seleksi alam dan hanyutan gen. Kedua mekanisme tersebut berarak menciptakan berbagai variasi morfologi maupun sifat terwaris pada suatu oganisme. Pengendali sifat dasar dan struktur hingga orientasi suatu spesies dalam upaya mengembangkan morfologinya adalah gen hox. Gen Hox sangat penting untuk penempatan yang tepat dari struktur segmen hewan selama perkembangan embrio awal (misalnya kaki, antena, dan sayap pada lalat buah atau tulang rusuk vertebrata yang berbeda pada manusia.)

 Gen Hox didefinisikan memiliki sifat berikut:
  • Kebanyakan dari mereka dihubungkan bersama dalam sebuah cluster atau kelompok berurutan dalam kromosom
  • Mereka terorganisir pada cluster sekuensial dalam urutan pola ekspresi sepanjang sumbu cephalo-caudal (kepala ke ekor) organisme.
  • Mengandung di dalamnya urutan DNA yang dikenal sebagai homeobox 
Gen Hox mengadakan proses variasi yang rumit baik sendiran maupun berkombinasi merancang mahakara kehidupan dalam proses evolusi yang panjang. Gen Hox menggiatkan gen - gen lainnya memberi bentuk dan fungsi setiap ornamen - ornamen biologis pada tubuh organisme, pada tikus terdapat gen Hox C6 -Antp versi tikus- yang mengendalikan bentuk paru - parunya, mengelilingi jantung dan paru - parunya.

Dalam evolusi, kelangsungan aliran gen dalam suatu organisme merupakan faktor yang krusial karena menentukan apakah seleksi alam berhasil menyingkirkan sifat terwaris yang buruk dalam suatu organisme atau justru mempertahankan sifat yang berguna dalam prosesinya mempertahankan keberlangsungan hidup. Namun proses evolusi tidak berhenti sampai dimana induk gen yang sama berhasil menciptakan stuktur dasar organisme pada masa embrionik tetapi bagaimana organisme tersebut berhasil mengevolusikan anggota tubuhnya menjadi berfungsi secara maksimal seperti bulu pada burung yang tidak hanya berfungsi untuk terbang saja tetapi sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap cuaca maupun pemangsa, berburu, berenang, dan kegiatan lainnya melalui informasi genetika yang diperolehnya. Melalui variasi - variasi informasi genetika yang diperoleh suatu organisme, evolusi berhasil menghasilkan populasi yang perlahan - lahan beradaptasi dengan lingkungan, dan pada akhinya, setelah berlangsung secara terus menerus akan terbentuknya keragaman yang baru, spesies baru.

Sabtu, 17 Maret 2012

Sabtu Ini...

Rasanya sudah lama tidak kembali menjadi orang gila yang sok revolusioner yang pekat dengan idealisme seakan akan hidup adalah bagaimana caranya membongkar sekutu - sekutu sosialita dan membawa mayoritas anak - anak papah yang kehilangan jati diri karena sesuatu dan lain hal ke neraka yang paling dalam. Terkadang sesap angin lebih memabukkan dan membuat kedua belah tangan kelu untuk dipecah belah agar lebih rajin menggapai sesuatu yang seharusnya diprioritaskan aah....

Kemarahan yang dangkal lalu histeria sesaat yang sudah sangat jelas hanya membawa kepedihan daripada rona merah dari ufuk timur. Sungguh menyesatkan, merasuk ke sela - sela lorong panjang hingga ke dalam laci - laci yang kukira sudah kukunci rapat dan kulupakan. Aku bahkan tau, aku bahkan sadar sepenuhnya, tapi mungkin sudah adanya bertahan tergerus angin adalah kesalahan yang akan menjadi sebuah kebenaran di suatu hari nanti.

Ya tanggapi saja dengan sepenuh hati dan setulus jiwa, jika memang tidak memberi kontribusi yang baik untuk hidup ini dan serta merta hanya menyakiti, setidaknya aku pernah melakukan hal yang baik. Tidak ada yang harus disesali toh hidup ini akan terus berjalan masing - masing dan sudah pasti! lengkap sudah koleksi drama seri yang menawan dalam perpustakaanku haha drama!

Kamis, 09 Februari 2012

Bom Atom: Pemutakhiran Kejahatan Perang Modern.


Ketika berbicara mengenai enersi bom atom sebagai teknologi perang maka kita bisa membeberkan dua persepsi berbeda yang membatasi tiap - tiap langkah pandangan secara deskriptif, radikal dan konservatif. Dalam meradikalisasi enersi bom atom, ia dipandang sebagai senjata mutakhir yang tidak hanya menghancurkan nasionalisme sebuah negara saja tetapi turut mengintimidasi dari desentralisasi massa dan alat -alat perang sebagai korban era teknologi perang. Hal ini diperoleh setelah meneropong efektifitas kerja dan efisiensi fungsi yang sederhana tetapi menimbulkan banyak korban yang berjatuhan. Pandangan ini juga dianut oleh Sir William Beveridge dalam essay yang ditulisnya di The Times edaran 14 Agustus 1945, "Bom atom boleh dibilang telah membuat senjata - senjata lain dari sesuatu peperangan modern seperti tank, kapal tempur, meriam, senjata api dan rakyat yang telah dilatih berperang menjadi barang - barang kuno yang harus disimpan dalam museum."

Nuklir merupakan salah satu muatan material yang berharga yang dimiliki oleh sebuah negara, berupa prestise dan kekuatan. Sehingga kualitas dan manuver perang bom atom harus disempurnakan dengan teknologi lainnya, maka teknologi bom atom ini ketika dipandang secara konservatif, merupakan salah satu pengembangan alat perang yang berupa suatu keharusan dalam upaya menyokong angkatan bersenjata dan perwujudan dari bentuk strategi perang yang kompleks. Hal ini tersirat secara tegas dan mumpuni karena memang dibutuhkan pangkalan - pangkalan perang yang strategis dan mampu memfasilitasi secara militer maupun ilmu pengetahuan ke dalam teknologi nuklir agar tidak terjadi kesalahan dalam setiap eksekusinya.

Agustus 1945 Amerika berhasil merevitalisasi angkatan perangnya dan mengembangkan teknologi nuklir dalam membombardir Nagasaki dengan plutonium atau setara dengan 20.000 ton TNT dan menghancurkan kota tersebut secara keseluruhan. Hal ini membuat taktik mass destruction menjadi operasi perang yang lumrah. Dikutip dari Bulletin of Atomic Scientists pada Juni 1947, Kementerian pertahanan Amerika memberikan statement mengenai kapabilitas bom atom sebagai pencapaian strategi perang yang nyata yang dimiliki Amerika, "our present strategy recognizes the overriding importance of strategic bombing... It is our belief now that strategic bombardment either by piloted aircraft or by guided missiles of one form or another provides the single most important element of our military capabilities..." Bom atom yang dilancarkan oleh Amerika mau tak mau merupakan awal pemutakhiran senjata modern berupa perpaduan antara penggunaan ilmu dan teknologi serta keberhasilan revitalisasi angkatan perang.

Manuver perang yang revolusioner memang, namun hal ini tidak hanya merupakan suatu kemajuan saja tetapi sebuah kemunduran moral yang nyata yakni bergelimangannya kejahatan perang berupa pembunuhan massal yang menimbulkan bercak hitam yang membiru merah pada sejarah suatu negara besar, dan bukan tidak mungkin terlupakan dalam sebuah guratan persetujuan dibalik pakta - pakta politik dan kerja sama semata. Tidak terelakan revolusi senjata peperangan modern menjadi problema yang dilematis dan masih diperdebatkan penggunaanya.